Tampilkan postingan dengan label Penyemangat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyemangat. Tampilkan semua postingan
Senin, 12 Maret 2012
Dampak Dari Cara Mengatasi Anak Yang Menangis
Kadang kita sering melihat di mall-mall atau tempat umum, seorang anak menangis meraung-raung hanya karena ingin dibelikan mainan atau ingin sesuatu. Kita sering juga melihat anak sering memukul orangtuanya atau pengasuhnya, menjadi penakut, pembohong, cengeng dan lain-lain. Hal tersebut terjadi antara lain karena kita sering memakai cara yang salah dalam mengatasi anak ketika menangis. Kesalahan ini sering dilakukan oleh para orangtua, pengasuh atau orang dewasa lain secara sengaja baik tidak sengaja ketika mengatasi anak yang sedang menangis. Kebanyakan diantara mereka sering mengambil cara “gampang” atau jitu untuk menenangkan si kecil untuk berhenti menangis. Padahal cara gampang dan jitu itu justru semakin merusak mental dan pola pikir sang anak, sehingga menjadikan anak itu mempunyai sifat cengeng, penakut, pembohong, kasar dan sifat-sifat buruk lainnya.Berikut ini adalah menurut saya cara atau tips dan trik yang lebih baik dalam mengatasi anak yang menangis sehingga bisa membuat anak tersebut tidak menjadi anak yang mempunyai sifat-sifat buruk diatas. Bahkan menjadi anak yang pemberani, sabar, sopan, halus tutur kata, dan lain-lain. Hanya ada dua hal penyebab yang menurut saya “it’s okey” untuk seorang anak menangis.
Pertama adalah RASA SAKIT, yaitu apabila seorang anak merasakan sakit secara fisik termasuk lapar dan haus. Kedua adalah RASA SEDIH, yaitu apabila seorang anak merasakan hal atau kejadian yang membuanya sedih. Hal-hal lain penyebab tangis antara lain MARAH, INGIN SESUATU, TAKUT, KANTUK, atau ALASAN GA JELAS, harus dibiasakan untuk tidak dijadikan alasan seorang anak untuk menangis.
Apabila hal ini diterapkan sejak dini atau umur balita, maka Insya Allah anak kita menjadi anak yang tidak cengeng.Sekarang bagaimana menerapkan prinsip diatas? Kata kuncinya adalah KONTROL. Ketika anak menangis, kita harus tetap tenang, jaga emosi, dan harus segera mencari tahu alasan atau penyebab kenapa sang anak menangis. Apabila ia menangis karena rasa sakit atau sedih, kita boleh menenangkan dia dengan lemah lembut, ditimang atau dibelai. Tapi apabila anak tersebut menangis karena marah, kantuk atau ingin mainan, maka kita harus menenangkan mereka dengan nada suara tegas dan berwibawa. Jaga emosi kita jangan sampai mengeluarkan suara tinggi apalagi marah yang meledak. Apabila tangis mereka tidak mereda, maka kita boleh memberikan sangsi seperti di strap, dilarang bermain, atau dibiarkan sampai lelah sendiri. Hal ini memang kadang sulit dan mengganggu, namun kita harus tabah, sabar dan tega melakukan hal tersebut demi perkembangan psikologis dan pola pikir sang anak. Intensitas nada tegas dan wibawa kitapun harus seiring atau seimbang dengan nada tangis sang anak. Misalnya apabila tangis sang anak mulai mereda, maka nada suara kitapun harus mulai melembut. Jangan sekali-kali berlebihan, karena hal tersebut akan membuat wibawa kita malah berkurang. Jangan pernah mengeluarkan kata-kata kasar atau negatif. Apabila hal ini dilakukan sejak dini, maka lebih singkat waktu yang digunakan untuk membentuk pola pikir atau sifat anak yang tidak cengeng. Ketimbang apabila kita baru menerapkan hal ini misalnya ketika sang anak sudah berumur 3 tahun lebih.Ada EMPAT PANTANGAN yang menurut saya sama sekali TIDAK BOLEH kita lakukan dalam menenangkan seorang anak ketika menangis. Namun ironisnya keempat hal inilah yang justru sering dilakukan oleh para orangtua atau para pengasuh anak. Ke Empat pantangan tersebut adalah:MEMANJAKAN, MEMBOHONGI, MENAKUT-NAKUTI dan MEMUKUL.1.
Memanjakan. Cara ini tentu ada pengecualian. Apabila tangisan sang anak disebabkan karena rasa sakit atau sedih, maka cara ini boleh dilakukan selama tidak berlebihan atau dibuat-buat. Namun apabila tangisan sang anak karena marah atau ingin sesuatu, maka jangan kita memanjakan mereka karena akan membuat mereka berfikir bahwa TANGIS ADALAH SENJATA ampuh mereka. Hal ini sangat penting. Jangan sekali-kali membuat sang anak menganggap bahwa menangis adalah cara jitu agar kemauannya dituruti. Berilah dia opsi lain, atau suggesti lain. Misalnya anak menangis karena tidak mau mandi, maka pertama-tama beri dia opsi untuk memilih kegiatan lain sebentar, setelah itu harus mandi. Apabila masih menangis, baru mulai dengan suara tegas dan berwibawa. Apabila tetap menangis, maka beri dia opsi mandi atau mendapat sanksi. Apabila tetap menangis juga maka mandikan dengan paksa dan hiraukan tangisannya. Atau berikan sanksi sampai dia mau mandi. Ingat, jangan sekali-kali menuruti kemauan dia untuk tidak mandi hanya karena dia menangis tidak mau mandi. Hal-hal yang tidak baik dilakukan:- Hindari kebiasaan menggendongnya setiap kali ia menangis.- Apabila anda ingin menuruti kemauannya, maka suruh dia berhenti menangis dulu, baru turuti kemauannya. Jangan turuti kemauannya ketika ia masih menangis.- Jangan Pernah Menyalahkan Orang lain, atau benda lain, apalagi memukul benda-benda yang membuatnya menangis. Misalnya menyalahkan dan memukul meja, ketika ia terbentur meja. Hal ini sangat buruk bagi perkembangan mental sang anak.2.
MEMBOHONGI. Cara ini sangat sering dilakukan oleh para orangtua atau pengasuh untuk menenangkan anak ketika menangis. Misalnya anak menangis karena tak mau mandi, maka ia dibohongi dengan dijanjikan akan pergi jalan-jalan. Padahal setelah selesai mandi langsung makan dan tidur. Atau misalnya anak menangis karena pingin dibeliin mainan, maka ia dibohongin dengan dijanjikan akan dibelikan nanti sebentar lagi. Padahal ketika ia berhenti menangis, janji tersebut tidak pernah dipenuhi. Banyak lagi janji-janji palsu atau kebohongan-kebohongan yang dilontarkan demi menenangkan sang anak yang menangis. Hal ini sangat buruk bagi psikologis anak. Selain sang anak akan ikut menjadi pembohong juga, wibawa orangtua yang suka berbohong akan hilang dimata sang anak. Dan rasa percaya anak akan berkurang pada orangtua. Biasakanlah sang anak menerima keadaan apa adanya.
MENAKUT-NAKUTI. Cara ini juga lumayan sering juga dilakukan karena lumayan jitu untuk menghentikan tangisan sang anak. Akan tetapi cara ini mempunyai dampak yang buruk bagi sang anak. Cara ini dapat membuat sang anak menjadi penakut, kehilangan percaya diri, dan pemurung karena merasa takut akan hal-hal yang seharusnya tidak ditakuti. Misalnya seorang anak menangis di mall, maka kita sering menakut-nakuti dengan mengatakan “Awas nanti ditangkep pak satpam!” atau dengan mengatakan “Awas nanti dimarahin si om tuh!” sambil menunjuk pada seorang bapak2 yang lewat. Ketika menangis di mobil kita menakut-nakuti dengan ancaman ditangkep pak polisi. Ketika menangis di rumah kita menakut-nakutinya dengan ancaman monster akan keluar dari kolong tempat tidur, atau patung macan akan hidup lalu menerkam dll. Kebiasaan menakut-nakuti ini harus dihilangkan agar sang anak tidak menjadi seorang penakut.
MEMUKUL. Cara ini adalah hal yang paling buruk karena bisa membuat sang anak menjadi trauma, rendah diri, kasar, violence atau bahkan menjadi seorang pembenci. Hindari melakukan pemukulan terhadap anak. Selalu kontrol emosi. Apabila sang anak sudah menangis berlebihan dan menyebalkan, dan anda sudah tidak tahu lagi bagaimana cara menenangkannya, maka biarkanlah ia menangis sampai ia berhenti sendiri karena lelah. Jangan sekali-kali memukul atau menuruti kemauannya apalagi yang menurut kita tidak baik untuknya.Tidak perlu panik, stress atau bahkan sampai emosi ketika menghadapi anak yang sedang menangis. Tetap tenang, sabar, jangan hiraukan pendapat orang lain ketika anak kita menangis ditempat umum. Yang penting adalah bagaimana kita tetap mengatasinya dengan cara yang benar.Memang tidak mudah dalam ngatasang anak yang suka menangis. Selain kata kunci yang sudah disebut diatas yaitu KONTROL, baik dalam hal emosi maupun tindakan. Ada hal lain yang juga sangat penting dilakukan para orangtua yaitu bersikap konsisten terhadap tips dan trik diatas. Apabila sang ibu bersikap seperti ini, maka sang ayah, para pengasuh, nenek, om atau tante pun harus diberitahukan untuk bersikap yang sama terhadap anak tersebut.Berlakulah adil. Anak kita, meskipun masih balita, bisa merasakan sesuatu apabila kita berbuat kesalahan dalam menentukan kebijakan. Mereka punya insting atau naluri unik dalam menilai tindakan orangtua terhadap mereka. Misalnya kita melarang anak pergi ke rumah nenek karena menurut kita takut merepotkan nenek. Padahal sebenarnya neneklah yang ingin dikunjungin cucunya, maka sang anak akan merasakan sesuatu yang salah terhadap kebijakan kita. Apabila anak kita menangis dan susah berhenti, terkadang itu terjadi karena dia merasakan sesuatu yang salah terhadap kebijakan kita dan kita tidak mau mengakui kesalahan kita. Maka dari itu kita harus mengevaluasi diri dan segera minta maaf apabila ternyata kebijakan kita memang kurang tepat. Seorang anak menangis adalah hal yang biasa. Namun apabila kita sering salah dalam mengatasinya, maka dampak psikologis, sifat dan cara berpikir sang anak akan menjadi negatif. Sehingga bagaimana cara kita mengatasi anak yang menangis menjadi hal yang sangat penting.Semoga tulisan ini dapat membantu. Mohon maaf apabila ada pendapat atau saran saya yang tidak berkenan
Sumber klik disini
Selasa, 06 Desember 2011
Mabit (Malam Bina Iman dan Taqwa)
Assalamu`alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah, kita akan berbagi kegiatan di TPA Al-A`Raaf edisi kedua dalam blog ini. Kegiatan ini dinamakan "MABIT" atau kepanjangannya "Malam Bina Iman dan Taqwa". Acara ini diisi dengan kegiatan positif, diantaranya ngaji, sholat (wajib), tadabbur alam, pentas seni anak sholeha, nonton bareng, bakar jagung, dll. Acara ini diselenggarakan malam hari dengan tema "Kemah Mabit" sehingga santri dan santriwati tidur di tenda. Mereka dididik untuk belajar mandiri bersama alam. Namun, acara ini masih diselenggarakan di sekitar halaman TPA Al-A`Raaf mengingat umur mereka.
Semoga acara ini bisa menjadi inspirasi untuk menyelenggarakan acara malam bina iman dan taqwa. Berikut beberapa foto "MABIT" ala TPA Al-A`Raaf.
Wassalamu`alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah, kita akan berbagi kegiatan di TPA Al-A`Raaf edisi kedua dalam blog ini. Kegiatan ini dinamakan "MABIT" atau kepanjangannya "Malam Bina Iman dan Taqwa". Acara ini diisi dengan kegiatan positif, diantaranya ngaji, sholat (wajib), tadabbur alam, pentas seni anak sholeha, nonton bareng, bakar jagung, dll. Acara ini diselenggarakan malam hari dengan tema "Kemah Mabit" sehingga santri dan santriwati tidur di tenda. Mereka dididik untuk belajar mandiri bersama alam. Namun, acara ini masih diselenggarakan di sekitar halaman TPA Al-A`Raaf mengingat umur mereka.
Semoga acara ini bisa menjadi inspirasi untuk menyelenggarakan acara malam bina iman dan taqwa. Berikut beberapa foto "MABIT" ala TPA Al-A`Raaf.
Wassalamu`alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sabtu, 03 Desember 2011
Dakwah adalah Cinta
"Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai.
Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. .. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.
Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.
Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.
Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.
Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.
Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi.
Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu
Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. .. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.
Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.
Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.
Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.
Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.
Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi.
Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu
menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.
Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yg takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya
besar.
Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang…
“Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus berlari…
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”"
(alm. Ust Rahmat Abdullah)
Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yg takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya
besar.
Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang…
“Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus berlari…
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”"
(alm. Ust Rahmat Abdullah)
Senin, 28 November 2011
No Title (Muhasabah)

Orang bilang anakku seorang aktivis . Kata mereka namanya tersohor dikampusnya sana . Orang bilang anakku seorang aktivis.Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat . Orang bilang anakku seorang aktivis .Tapi bolehkah aku sampaikan padamu nak ? Ibu bilang engkau hanya seorang putra kecil ibu yang lugu.
(dari seseorang yang mengirim pesan di FB, jazakillah ahsanil jaza' ukhtifillah)
Senin, 31 Oktober 2011
Dimanakah Taman-taman Al-Quran Hari Ini? (Muhasabah)
Assalamu`alaykum wr wb
Hidup segan mati pun tak mau, mungkin inilah gambaran nyata dari perjalanan Taman Pendidikan Al Qur’an di masjid kita saat ini. TPA/TPQ yang merupakan benteng pengkaderan generasi Islam masa depan (yang telah teruji sekian tahun dalam memberikan pengajaran Al Quran), perlahan namun pasti telah memasuki masa kepunahan, kalau tidak dikatakan punah, paling tidak keberadaannya pun antara ada dan tiada.
Hidup segan mati pun tak mau, mungkin inilah gambaran nyata dari perjalanan Taman Pendidikan Al Qur’an di masjid kita saat ini. TPA/TPQ yang merupakan benteng pengkaderan generasi Islam masa depan (yang telah teruji sekian tahun dalam memberikan pengajaran Al Quran), perlahan namun pasti telah memasuki masa kepunahan, kalau tidak dikatakan punah, paling tidak keberadaannya pun antara ada dan tiada.
Jika kita menyaksikan perjalanan TPA/TPQ ini hari ini, mungkin anda hanya bisa prihatin dan meratapi nasib, bagaimana tidak? Dari sisi pengajarnya tidak punya kualitas dan hanya bermodalkan keikhlasan, kalau diberi subsidi yang pantas (sebagai bentuk penghormatan pada para pengajar Al Quran) dikritisi habis-habisan, manajemen TPA/TPQ amburadul, jumlah santri/wati hampir satu kampung, sedangkan pengajarnya hanya segelitir orang saja, miskin dana (sebab pengurus masjid sangat pelit mengelurkan dana untuk TPA/TPQ) dan lain sebagiannya. Walhasil, tidak ada yang bisa membuat kita bangga dari perjalanan TPA/TPQ saat ini. Bagaimana kita akan bangga, kalau hampir seluruh perangkat pembelajaran di TPA/TPQ masih compang-camping alias amburadul? Inilah kenyataan TPA/TPQ di masjid kita hari ini, kalau pun ada TPA/TPQ yang masih bisa berjalan, berjalannya pun antara hidup dan mati, sedangkan TPA/TPQ yang mati dan tinggal nama, tak terhitung jumlahnya.
Mungkin kita bertanya, mengapa TPA/TPQ masjid tidak terurus dengan baik, bahkan mati ? Padahal, namanya dana masjid sangat melimpah, belum lagi jika dibandingkan bagaimana semangatnya kita merayakan hari raya, menyambut Ramadhan, memberikan berbagai santunan, pembagian sembako dll, kita begitu ringannya mengeluarkan infaq, kita begitu peduli, ide dan gagasan kita begitu cemerlang, bahkan kita rela menyambutnya dengan sangat antusias dan meriah, tapi jika kita dihadapkan dengan persoalan TPA/TPQ, seakan-akan potensi kita mati, dana kita susah keluar, pembahasan tentang TPA/TPQ tidak pernah membuahkan hasil dan kemanjuan, mengapa ?Jawabannya hanya satu TIDAK PEDULI.
Membangun kepedulian terhadap TPA/TPQ memang tidaklah mudah. Maka wajar jika dilapangan kita jumpai amat sedikit sekali pengurus masjid hari ini yang peduli terhadap TPA/TPQ. Untuk itu, jika kepedulian itu ada, saya amat yakin TPA/TPQ tidak akan amburadul atau bahkan mati, sebab TPA/TPQ adalah satu-satunya wadah pengajaran Al Qur’an untuk anak-anak, yang orang tuanya tidak mampu mendatangkan pengajar Al Quran. TPA/TPQ adalah harapan satu-satunya orang tua yang tidak mampu mengajarkan sendiri Al Qur’an, sedangkan dirinya pun tak mampu pula menyekolahkan anaknya di pondok atau sekolah Full day school. Harapannya para orang tua yang minim ilmu dan dana, hanya pada TPA/TPQ.
Melihat kenyataan di atas seharusnya TPA/TPQ menjadi program unggulan masjid hari ini, tidak malah menjadi anak tiri di masjidnya sendiri. Tidak ada yang paling utama, yang pantas dilakukan masjid kecuali membina generasi Islam, baik tingkat dasar maupun menengah, sedangkan aktivitas lainnya seharusnya bersifat penunjang/tambahan semata.
TPA/TPQ butuh kepedulian dan pengorbanan kita, sebab membina generasi tidak cukup hanya hitungan hari atau bulan semata, tapi membutuhkan waktu yang lama, yang berselimutkan kesabaran dan keistiqomahan.
TPA/TPQ, siapa yang peduli denganmu ? Inilah barangkali jeritan TPA/TPQ hari ini, jeritan puluhan bahkan ratusan anak yang mengharap pada kita untuk dibekali Al Qur’an. Jeritan anak yang menangis untuk bisa ikut TPA/TPQ. Tapi, jeritan dan tangisan itu pun kini hanya tinggal kenangan, sebab banyak masjid hari ini yang tak berdaya jika dihadapkan dengan persoalan TPA/TPQ, banyak pengurus masjid hari ini yang tertidur pulas tak peduli dengan TPA/TPQ, banyak pengurus masjid saat ini, yang buta akan nasib TPA/TPQ. Malah justru, pengurus masjid saat ini, lebih peduli dengan membangun/menghias masjid semata, menambah sarana dan prasarana masjid, membuat kegiatan yang glamor, yang menghabiskan dana jutaan rupiah. Tapi kebanyakkan mereka tidak peduli dengan TPA/TPQ.
Seharusnya pengurus masjid malu, jika TPA/TPQ saja tidak berjalan dengan baik/mati. Karena TPA/TPQ adalah inti kegiatan masjid, tanpa generasi yang pandai membaca Al Qur’an, jangan harap masjid akan menemukan kemakmuran dan kemajuannya. Dan perlu kita sadari, tidak ada ucapan yang terbanyak dalam masjid, kecuali Al Qur’an. Mari kita sama-sama peduli terhadap TPA/TPQ, kalau tidak kita…lalu siapa lagi
Wassalamu`alaykum wr wb
Sumber: http://khoirotunhisan01.wordpress.com/2010/02/05/peduli-taman-pendidikan-al-qur’an
Wassalamu`alaykum wr wb
Sumber: http://khoirotunhisan01.wordpress.com/2010/02/05/peduli-taman-pendidikan-al-qur’an
Langganan:
Postingan (Atom)

